Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Harapan Mengejar Kualitas Pendidikan yang Merosot Akibat Pandemi
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Harapan Mengejar Kualitas Pendidikan yang Merosot Akibat Pandemi

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Harapan Mengejar Kualitas Pendidikan yang Merosot Akibat Pandemi

Sabtu, 23 Oktober 2021 02:00:21 WIB | Redaksi
A+ | Reset | A-

TABLOIDBINTANG.COM - Pandemi Covid-19 turut mempengaruhi kualitas pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang mulai dilaksanakan di beberapa daerah diharapkan mampu mengejar ketertinggalan siswa. 

Meski demikian, perlu upaya keras untuk memitigasi potensi learning loss yang tengah terjadi selama kebijakan pembelajaran daring akibat Covid-19 ini. 

Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus memitigasi menurunnya potensi kualitas pendidikan serta memetakan solusinya ke dalam sistem pendidikan nasional.

Pendidikan di masa pandemi

Dia memahami bahwa dunia pendidikan tengah menghadapi tantangan pola belajar yang tak biasa akibat Covid-19. Para pendidik harus memutar otak untuk mengubah model pembelajaran, dari offline ke online.

Model pembelajaran daring pun menghadapi berbagai tantangan, di antaranya keterbatasan infrastruktur jaringan internet, keterbatasan peralatan komputer, pendidik yang masih gagap teknologi, serta masalah pendampingan siswa di rumah.

Trubus mengungkapkan, dari aspek kebijakan publik, tantangan terbesar Kemendikbud adalah mengoptimalkan pembelajaran sistem daring untuk memperluas jangkauan ke seluruh wilayah tanah air. 

Di tengah keterbatasan anggaran, Kemendikbud harus mengeluarkan kebijakan inovatif yang lebih menekankan pada kualitas pembelajaran berbasis teknologi informasi. 

Contohnya, lanjut Trubus, model pembelajaran daring yang mampu mendorong siswa menjadi kreatif, serta mampu mengakses sebanyak mungkin ilmu pengetahuan sekaligus dapat menghasilkan karya. 

Yang banyak terjadi sekarang, siswa terbebani dengan tugas yang menumpuk yang terkesan hanya sebagai formalitas belaka dari guru terhadap murid. Esensi dari kegiatan belajar mengajar pun kerap terlupakan.

Sebenarnya, kata Trubus, sebelum pandemi Covid-19 pun sudah ada lembaga pendidikan di Indonesia yang merealisasikan pembelajaran melalui daring. Kemendikbud, misalnya telah memiliki portal daring “Rumah Belajar” yang menyediakan bahan belajar dan fasilitas komunikasi yang mendukung interaksi antar komunitas.

Bagi pendidik milenial, meski belum berjalan optimal, kebijakan mengedepankan pembelajaran daring, bukanlah sesuatu yang memberatkan. Tapi bagi guru atau dosen yang terlahir sebagai generasi baby boomers, pembelajaran daring merupakan tantangan berat.

Mereka membutuhkan persiapan yang lebih matang, seperti rancangan materi pembelajaran yang lebih lengkap, mulai dari metode, instrumen, hingga kurikulum pembelajaran. 

Meski demikian, Trubus mengapresiasi kesadaran para pendidik untuk memulai pembelajaran melalui daring. Sesuai  gagasan Mendikbud Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar, ke depan, pendidikan harus seirama dengan tata dunia baru. 

Menurutnya pendidik, orang tua, anak didik, dan komunitas pendidikan haruslah merespons secara tepat tatanan baru kehidupan. Pendidikan harus memerdekakan manusia untuk belajar menyerap ilmu dari siapapun dan kapanpun. 

Karena sejatinya, lanjut Trubus, sebagaimana petuah Ki Hajar Dewantara, setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah. Oleh karena itu, dia berharap gagasan mengenai Merdeka Belajar selayaknya diterjemahkan secara mendetail dengan instrumen-instrumen yang tepat sasaran.

PTM terbatas

Sementara itu, Abdul Latif, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UHAMKA, pernah menulis dalam satu kolom bahwa pembelajaran jarak jauh atau daring yang berkepanjangan mempengaruhi dampak sosial, perkembangan, serta kualitas pendidikan

Penanganan pandemi, lanjut dia, tentu akan terus dilakukan sembari terus berupaya untuk adaptasi diri melalui kebiasaan baru salah satunya dengan perlunya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. 

Pembelajaran tatap muka secara terbatas tentu bermaksud untuk meminimalisir terjadinya kemerosotan kualitas pendidikan. Selain itu, hal ini juga untuk menghindari ancaman anak putus sekolah karena ketidaktersediaan fasilitas pembelajaran daring.

Perintis media online www.serambiupdate.com tersebut juga berujar, pembelajaran tatap muka terbatas dimaksudkan menghindari penurunan capaian belajar anak. Dia menilai, pembelajaran di dalam kelas akan menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibanding pembelajaran daring.

Meski demikian, Abdul menekankan perlunya regulasi yang jelas dalam implementasi PTM terbatas, dengan mempertimbangkan dan melihat kondisi daerah masing-masing.

Harapannya, kebijakan itu bisa diterapkan dengan beberapa tahapan mulai dari uji coba, penerapan protokol kesehatan, dan aturan-aturan lain yang dapat mendukung PTM terbatas sebagai upaya meminimalisir dampak yang berkepanjangan bagi para siswa akibat pembelajaran daring.

Kualitas pendidikan tertinggal

Sebenarnya, Indonesia bukan menjadi satu-satunya negara yang mengalami penurunan kualitas pendidikan. Studi Bank Dunia mengungkapkan, penutupan sekolah selama pandemi Covid-19 telah menurunkan sistem kualitas pendidikan di 70 negara di dunia.

Meski demikian, Indonesia memang dinilai lebih terdampak karena pada dasarnya, kualitas pendidikan di Tanah Air sudah cukup rendah bahkan sebelum masa pandemi. Hal ini diungkapkan oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Dia menyatakan, sistem pendidikan Indonesia telah tertinggal dari negara lain sebelum pandemi Covid-19 melanda. Hal ini, menurut Nadiem, terlihat dari peringkat Indonesia yang rendah pada Programme for International Student Assessment (PISA).

Sebelum pandemi angka PISA Indonesia sudah ketinggalan, terutama di bidang numerasi literasi dan sains, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita, dengan negara lain. Adanya pandemi ini, lanjut Nadiem, potensi ketertinggalan Indonesia semakin nyata.

Dia mengungkapkan dalam kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada di urutan ke 74 dari 79 negara. Hal ini pun membuat tantangan dunia pendidikan Indonesia semakin besar. 


Penulis Redaksi
Editor Tubagus Guritno
Terbaru
Lesti Kejora Bersaing dengan Aurel Hermansyah di Mom and Kids Awards 2021

Lesti Kejora Bersaing dengan Aurel Hermansyah di Mom and Kids Awards 2021

27 menit yang lalu
Pradikta Wicaksono 2 Tahun Tekuni Olahraga Free Diving, Sempat Hampir Blackout di Dalam Air

Pradikta Wicaksono 2 Tahun Tekuni Olahraga Free Diving, Sempat Hampir Blackout di Dalam Air

56 menit yang lalu
BTS Umumkan Libur, Ucapan Rest Well jadi Trending Topik

BTS Umumkan Libur, Ucapan Rest Well jadi Trending Topik

1 jam yang lalu
4 Zodiak Ini Pandai Menahan Cemburu, Hingga Terluka Dalam Diam

4 Zodiak Ini Pandai Menahan Cemburu, Hingga Terluka Dalam Diam

1 jam yang lalu
Doddy Sudrajat Menegaskan Bakal Memindahkan Makam Vanessa Angel

Doddy Sudrajat Menegaskan Bakal Memindahkan Makam Vanessa Angel

2 jam yang lalu
Amanda Manopo Berhasil Gagalkan Kejutan Ulang Tahun ke-22 Untuknya: Mau Nge-prank Malah Di-prank Balik

Amanda Manopo Berhasil Gagalkan Kejutan Ulang Tahun ke-22 Untuknya: Mau Nge-prank Malah Di-prank Balik

2 jam yang lalu
Ketimbang Instagram, Pradikta Wicaksono Lebih Ingin Buatkan Kucingnya Project Animasi

Ketimbang Instagram, Pradikta Wicaksono Lebih Ingin Buatkan Kucingnya Project Animasi

3 jam yang lalu
Ditatap dan Disentuh Tangannya oleh Taylor Swift, Pangeran William Merasa seperti Kesurupan

Ditatap dan Disentuh Tangannya oleh Taylor Swift, Pangeran William Merasa seperti Kesurupan

3 jam yang lalu
Semeru Erupsi, Jokowi Perintahkan Jajararannya Bergerak Cepat

Semeru Erupsi, Jokowi Perintahkan Jajararannya Bergerak Cepat

4 jam yang lalu
Doddy Sudrajat Cabut Kesepakatan, Ayah Bibi Resmi Ajukan Gugatan Hak Asuh Gala Sky

Doddy Sudrajat Cabut Kesepakatan, Ayah Bibi Resmi Ajukan Gugatan Hak Asuh Gala Sky

4 jam yang lalu